Oleh: Boneventura Rixsan Arfandi, S.P.
Dulu, saya hanyalah seorang siswa biasa di SMK Negeri 1 Adonara. Hari ini, saya berdiri di depan kelas, sebagai seorang guru.
Perjalanan ini tidak instan. Semua berawal dari tempat yang sangat sederhana.
Saya masih ingat betul. Ruang kelas kami dulu berdinding bambu. Saat hujan turun, angin dengan mudah masuk dari sela-selanya. Lantainya pun masih sangat sederhana. Fasilitas sangat terbatas.
Namun justru di tempat seperti itulah, mimpi-mimpi besar mulai tumbuh.
Saya adalah bagian dari angkatan ke-3 SMK Negeri 1 Adonara. Kami datang ke sekolah bukan karena semuanya sudah lengkap, melainkan karena kami ingin masa depan yang lebih baik.
Kami belajar dalam keterbatasan, tetapi tidak pernah merasa terbatas.
Karena kami memiliki guru-guru hebat. Mereka mengajar bukan karena fasilitas yang memadai,
melainkan karena hati dan panggilan. Di tengah segala kekurangan, mereka tetap berdiri di depan kelas,
meyakinkan kami bahwa kami bisa berhasil.
Dari merekalah saya belajar satu hal yang tidak pernah saya lupakan: keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Waktu terus berjalan. Saya melangkah keluar, menjalani berbagai pengalaman hidup. Hingga akhirnya, saya dipanggil untuk kembali— kembali ke tempat di mana semuanya dimulai.
Namun kali ini, bukan sebagai siswa. Saya kembali sebagai seorang guru.
Saat pertama kali berdiri di depan kelas, ada perasaan haru yang sulit dijelaskan. Saya melihat bangunan yang kini sudah lebih kokoh, ruang kelas yang semakin layak, serta fasilitas yang terus berkembang.
SMK Negeri 1 Adonara telah berubah.
Namun ketika saya melihat wajah-wajah peserta didik di depan saya, saya seperti melihat diri saya sendiri di masa lalu. Ada harapan yang sama. Ada semangat yang sama. Ada mimpi yang sama.
Dan saat itu saya sadar— saya tidak sekadar kembali. Saya sedang melanjutkan perjuangan.
Kini saya mengabdi sebagai guru produktif di bidang Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (ATPH).
Setiap hari, saya berusaha memberikan yang terbaik. Karena dulu, saya juga pernah menerima yang terbaik, dari guru-guru yang mengajar dengan penuh ketulusan.
Bagi saya, kembali ke SMK Negeri 1 Adonara bukan sekadar pulang. Ini adalah tentang membalas. Tentang menjaga harapan tetap hidup. Tentang memastikan mimpi-mimpi itu terus tumbuh.
Dulu, kami belajar di balik dinding bambu. Hari ini, berdiri bangunan impian.
Saya bangga, pernah menjadi bagian dari awal cerita itu. Dan kini menjadi bagian dari masa depannya.
(BRA)

